Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd
Penasehat MGMP Seni Budaya SMA/SMK Provinsi Sulawesi Selatan / Akademisi FSD UNM
MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 |
Ada kalimat yang sering saya dengar di warung kopi, di ruang tunggu kantor, bahkan di media sosial. Enak ya jadi guru, kerja setengah hari, libur banyak. Kalimat itu terdengar ringan, tapi bagi kami yang setiap pagi berdiri di depan kelas, kalimat itu terasa sangat jauh dari kenyataan.
Siapa bilang jadi guru di kelas itu mudah. Silakan datang dan duduk di kursi belakang kelas saya selama tujuh jam. Lihat apa yang sebenarnya terjadi.
Di balik papan tulis yang tampak sederhana itu, ada tiga puluh lima dunia yang harus dipahami dalam satu waktu. Tiga puluh lima kepala dengan cerita yang berbeda-beda. Ada anak yang datang ke sekolah dengan perut kenyang dan semangat penuh karena semalam belajar ditemani orang tuanya. Di sebelahnya duduk anak yang semalaman tidak tidur karena harus menjaga adiknya yang sakit. Ada anak yang matanya berbinar ketika mendengar kata menari, dan ada anak yang langsung menunduk minder karena merasa tidak berbakat seni sama sekali. Tugas guru adalah merangkul semuanya dalam satu irama yang sama.
Menjadi guru Seni Budaya misalnya, sering dianggap mata pelajaran pelengkap. Padahal tantangannya jauh lebih kompleks dari sekadar mengajarkan cara menggambar atau cara menari Padduppa. Kami tidak hanya mengajarkan wiraga, wirama, dan wirasa. Kami sedang mengajari anak-anak untuk percaya diri. Betapa sulitnya meyakinkan seorang remaja laki-laki yang pemalu untuk berani bergerak lembut di depan teman-temannya. Betapa tidak mudahnya membuat anak yang sudah kecanduan gawai untuk mau menyentuh kecapi, memainkan gendang, dan merasakan getaran budaya leluhurnya sendiri. Itu bukan pekerjaan teknis, itu pekerjaan hati.
Guru di kelas adalah seorang aktor sekaligus sutradara. Dalam satu jam pelajaran, kami harus berganti peran berkali-kali. Lima menit pertama kami menjadi motivator yang membakar semangat anak yang lesu. Sepuluh menit berikutnya kami menjadi psikolog yang harus peka melihat ada siswi yang diam-diam menangis karena masalah di rumah. Menit berikutnya kami harus menjadi penegak disiplin ketika ada siswa yang ribut. Dan di akhir pelajaran, kami harus menjadi sahabat yang merangkul mereka dan berkata, besok kita coba lagi ya, nak.
Kami pulang jarang dengan baju yang masih rapi dan suara yang masih jernih. Yang kami bawa pulang adalah suara serak karena harus menjelaskan materi yang sama berulang-ulang dengan intonasi yang berbeda agar semua paham. Yang kami bawa pulang adalah energi yang terkuras karena harus memastikan tidak ada satu anak pun yang tertinggal. Yang kami bawa pulang adalah pikiran yang terus berputar, apakah pendekatan saya tadi sudah benar, apakah anak yang duduk di pojok tadi sudah paham, bagaimana caranya agar besok ia mau tersenyum lagi.
Era sekarang membuat tugas guru semakin berat. Kami berhadapan dengan generasi yang hidupnya dikelilingi TikTok, YouTube, dan kecerdasan buatan. Informasi ada di mana-mana. Siswa bisa mencari tutorial menari jauh lebih menarik di ponselnya daripada mendengarkan penjelasan kami. Jika guru tidak berinovasi, tidak kreatif, dan tidak terus belajar, maka kami akan ditinggalkan. Guru Seni Budaya dituntut untuk tidak hanya mahir dalam seni tradisi, tetapi juga harus melek digital, mampu mengemas Tari Pa’gellu Toraja agar terlihat keren di layar ponsel, mampu menjelaskan filosofi Lipa Sabbe dengan bahasa anak muda. Itu membutuhkan belajar tanpa henti, sementara kami juga tetap harus mengajar tanpa henti.
Lalu ada beban administrasi yang sering tidak terlihat oleh publik. Di luar jam mengajar, guru masih harus menyusun modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka, membuat rubrik penilaian yang adil, mengisi e-rapor, mengikuti pelatihan, membina ekstrakurikuler, dan mendampingi siswa yang akan lomba. Semua itu dikerjakan sering kali hingga larut malam, setelah anak-anak kami sendiri di rumah sudah tidur. Jadi jika ada yang mengatakan guru pulang jam satu siang dan bersantai, itu keliru besar. Raga kami mungkin pulang, tapi pikiran kami masih tertinggal di kelas.
Namun percayalah, di balik semua lelah itu, ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi. Tidak ada profesi lain yang kebahagiaannya sesederhana melihat anak yang tadinya tidak bisa sama sekali, tiba-tiba bisa memainkan satu petikan kecapi dengan benar. Tidak ada kebahagiaan yang lebih murni selain melihat siswi yang tadinya sangat pemalu, kini berani tampil percaya diri di panggung pentas seni sekolah. Momen-momen itulah yang membuat kami bertahan. Momen-momen kecil yang tidak pernah masuk berita, tapi menjadi bahan bakar besar bagi seorang guru.
Oleh karena itu, tulisan ini bukan untuk mengeluh. Tulisan ini untuk meluruskan pandangan. Menjadi guru di kelas tidak pernah mudah. Ia adalah pekerjaan yang menuntut kesabaran seluas samudra, ketulusan tanpa batas, dan keikhlasan untuk menjadi lilin yang terus menyala meski dirinya sendiri perlahan meleleh.
Jika masyarakat ingin pendidikan kita maju, maka hargailah proses yang terjadi di dalam kelas. Dukung guru dengan kepercayaan, bukan dengan prasangka. Berikan ruang bagi guru untuk berkreasi, untuk salah, dan untuk belajar lagi. Karena ketika guru dihargai dan dimerdekakan, maka ia akan mampu memerdekakan tiga puluh lima dunia di hadapannya.
Dan bagi rekan-rekan guru di seluruh Sulawesi Selatan, khususnya keluarga besar MGMP Seni Budaya SMA dan SMK, tetaplah kuat. Tugas kita memang tidak mudah, tapi tugas kita sangat mulia. Di tangan kitalah karakter, rasa, dan jiwa generasi pelanjut budaya Sulsel ini dibentuk. Teruslah menari, teruslah berkarya, dan teruslah mendidik dengan hati.
Karena pada akhirnya, yang membuat seorang guru tetap berdiri di depan kelas bukanlah karena gajinya, tapi karena ia percaya bahwa di antara tiga puluh lima dunia itu, ada satu dunia yang hidupnya akan berubah karena kehadirannya hari ini.











