MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 |
Ada sebuah pemandangan yang sering saya temui di awal semester. Ketika saya menyebutkan mata kuliah Pengantar Pendidikan di kelas mahasiswa calon guru semester satu, sebagian menghela napas. Di benak mereka, ini adalah mata kuliah teori, penuh hafalan tentang pengertian pendidikan menurut para ahli, landasan-landasan, dan pasal-pasal undang-undang. Mata kuliah yang harus dilewati, bukan dihayati. Padahal, di mata kuliah inilah sebenarnya seorang calon guru sedang ditanya untuk pertama kalinya secara serius, mau menjadi guru seperti apa.
Selama ini kita terlalu sibuk menyiapkan calon guru yang pintar mengajar materi, tapi lupa menyiapkan calon guru yang paham hakikat mendidik. Akibatnya, yang lahir adalah penjaga kelas, bukan pendidik. Penjaga kelas sibuk mengejar target kurikulum, memastikan semua catatan selesai, dan semua anak bisa calistung secepat mungkin. Pendidik, di sisi lain, sibuk memastikan setiap anak tumbuh sesuai tahapnya, dihargai keunikannya, dan merasa aman menjadi dirinya sendiri.
Perbedaan itu berawal dari apakah mahasiswa benar-benar memahami Pengantar Pendidikan atau hanya menghafalnya untuk ujian.
Mari kita lihat realitas di lapangan, dekat dari kita saja, di lorong-lorong Bawakaraeng Makassar. Seorang guru TK mendapat tekanan dari orang tua agar mengajari anak TK B calistung intensif dengan PR menulis dua halaman setiap hari. Jika tidak, orang tua mengancam pindah ke bimbel. Di SMA, seorang siswa pendiam yang sangat detail dalam membuat desain poster dari sampah botol bekas dicap pemalas dan ansos hanya karena menolak menjadi presenter di depan kelas. Di SD, guru mengajarkan materi peduli lingkungan di buku, tapi setelah itu membuang sampah kertas ujian langsung ke selokan.
Tiga peristiwa itu bukan masalah metode mengajar. Itu adalah masalah hilangnya pemahaman tentang hakikat dan landasan pendidikan.
Pengantar Pendidikan mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor Dua Puluh Tahun Dua Ribu Tiga adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Kata kuncinya adalah suasana dan potensi diri. Bukan paksaan dan target. Ketika seorang guru TK memaksa anak usia empat sampai enam tahun yang secara psikologis masih berada pada tahap pra-operasional untuk menulis huruf kecil yang abstrak, ia sedang melanggar hakikat itu. Anak usia dini belajar melalui benda konkret yang bisa dipegang, diraba, dan dimainkan. Botol bekas yang diubah menjadi pot karakter jauh lebih mendidik daripada lembar kerja menulis yang membuat jari kram dan hati cemas.
Di sinilah landasan psikologis berbicara. Jean Piaget dengan jelas mengatakan anak TK belum mampu berpikir simbolik abstrak. Memaksanya sama dengan memaksa anak yang belum tumbuh gigi untuk makan steak. Dampaknya bukan kepintaran, melainkan trauma belajar. Sementara itu, landasan filosofis Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita dengan ajaran Tut Wuri Handayani, guru di belakang memberi dorongan, bukan di depan mendikte. Dan landasan yuridis, melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor Seratus Empat Puluh Enam Tahun Dua Ribu Empat Belas serta Surat Edaran Menteri Nomor Satu Tahun Dua Ribu Dua Puluh Satu, secara tegas melarang tes calistung dan pembelajaran drilling di TK. Jika calon guru tidak memahami empat landasan ini sejak awal, ia akan mudah goyah oleh tekanan sosial. Ia akan lebih memilih menyenangkan orang tua daripada melindungi anak.
Hal yang sama terjadi pada kasus siswa introvert. Tanpa pemahaman tentang perkembangan peserta didik yang menjadi bagian dari Pengantar Pendidikan, guru akan dengan mudah memberi label. Label ansos, pemalas, tidak percaya diri. Padahal, teori kepribadian modern menjelaskan bahwa introvert bukanlah pemalu. Introvert adalah cara seseorang mengisi ulang baterai energinya, yaitu dengan kesunyian. Ia bukan tidak mau bersosialisasi, ia hanya lelah jika harus terus berada di keramaian. Ekstrovert sebaliknya, baterainya terisi saat ia berinteraksi. Ada pula ambivert yang fleksibel di keduanya, dan shy extrovert yang sebenarnya ingin tampil seperti ekstrovert tapi cemas dinilai.
Jika calon guru tidak pernah belajar ini di Pengantar Pendidikan, bagaimana ia bisa merancang pembelajaran yang adil. Ia akan terus menilai keaktifan hanya dari siapa yang paling keras bersuara di kelas. Ia akan memaksa siswa introvert untuk menjadi presenter di depan kelas agar percaya diri, padahal kepercayaan diri introvert tumbuh ketika karya detailnya dihargai, bukan ketika ia dipaksa menjadi orang lain. Di sinilah Pengantar Pendidikan mengajarkan kompetensi pedagogik yang sejati, yaitu kemampuan memahami karakteristik peserta didik.
Lebih jauh lagi, Pengantar Pendidikan hari ini harus menjawab tantangan zaman. Tujuan Pendidikan Nasional bukan hanya mencetak manusia yang berilmu, tetapi juga yang kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Kreatif tidak lahir dari menghafal. Mandiri tidak lahir dari selalu disuapi. Bertanggung jawab tidak lahir dari ceramah tentang kebersihan. Ketiga karakter itu lahir dari pengalaman nyata. Ketika mahasiswa calon guru diajak membuat pot dari botol bekas, membuat eco-brick dari sampah plastik kantin, atau membuat kertas benih dari kertas ujian bekas, mereka sebenarnya sedang belajar menerjemahkan Tujuan Pendidikan Nasional menjadi tindakan kecil yang membumi.
Sampah yang ada di selokan Bawakaraeng yang menyebabkan banjir setiap musim hujan adalah masalah pendidikan, bukan hanya masalah Dinas Lingkungan Hidup. Jika sejak TK anak diajarkan bahwa sampah adalah sumber belajar, bukan musuh, maka sepuluh tahun lagi TPA Antang tidak akan overload. Inilah yang disebut hidden curriculum, kurikulum tersembunyi. Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihat gurunya lakukan, bukan dari apa yang ditulis di papan tulis. Jika guru membuang sampah sembarangan, maka pelajaran peduli lingkungan di buku menjadi sia-sia.
Oleh karena itu, saya selalu mengatakan kepada mahasiswa saya, jangan anggap Pengantar Pendidikan sebagai mata kuliah hafalan untuk semester satu saja. Anggaplah ini sebagai kompas etis. Kompas yang akan kamu bawa selama menjadi guru. Ketika nanti kamu bingung harus menuruti tuntutan orang tua atau melindungi kebutuhan anak, buka kembali catatan landasan yuridis dan psikologis. Ketika kamu bingung menilai siswa yang diam, buka kembali catatan tentang temperamen dan introvert. Ketika kamu bosan mengajar, buka kembali catatan tentang hakikat pendidikan yang memanusiakan.
Guru yang hebat bukan yang paling pintar menjelaskan materi. Guru yang hebat adalah yang paling dalam memahami manusia yang ada di depannya. Dan pemahaman itu, fondasinya diletakkan di mata kuliah yang sering dianggap remeh ini, Pengantar Pendidikan. Jika fondasinya rapuh karena hanya dihafal, maka bangunan profesionalisme guru di atasnya akan mudah roboh oleh tekanan zaman. Tapi jika fondasinya kokoh karena dihayati, maka kita akan melahirkan generasi guru yang tidak hanya mengajar, tetapi benar-benar mendidik, memanusiakan manusia, dan menjaga bumi tempat kita berpijak.











