JAKARTA, π§ππ₯π’π£π’π‘πππ¦π£ππ₯ππ¦ππ ππ¦π¬ππ₯ππππ§.ππ’π β Jagat Satwa Nusantara menggelar konferensi pers dan pemberangkatan Merak Hijau (*Pavo muticus*) menuju Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026. Kegiatan yang mengusung semangat βMerak Hijau Lestariβ ini menjadi bagian dari upaya mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Kegiatan tersebut berlangsung di BalΓ© by BTN, Resto Bakau, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Agenda utamanya adalah pemberangkatan Merak Hijau hasil pengembangbiakan terkontrol dari Jagat Satwa Nusantara menuju habitat alaminya sebagai bagian dari rangkaian persiapan pelepasliaran.
Acara diawali dengan sambutan sejumlah pemangku kepentingan, yakni Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, M. Fardhan Khan, perwakilan Direktur Taman Mini Indonesia Indah, Menteri Kehutanan, serta Kepala Konservasi Sumber Daya Alam.
Dalam paparannya, M. Fardhan Khan menyampaikan sejumlah program konservasi yang telah dijalankan Jagat Satwa Nusantara. Salah satunya adalah program hibah satwa kepada Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta pada 8 Maret 2024, dengan jumlah tercatat sebanyak 130 ekor satwa.
Selain itu, Jagat Satwa Nusantara juga melaksanakan program pelepasliaran satwa melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas. Salah satunya pelepasliaran 30 ekor ikan kancra bersama Komunitas Rungkun Awi di kawasan Ciasara, Kabupaten Bogor.
Komitmen konservasi juga diwujudkan melalui dukungan renovasi fasilitas Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur senilai Rp226 juta. Dukungan tersebut mencakup pembangunan gudang penyimpanan, gudang pakan, kandang burung, ruang isolasi, serta *aviary* untuk menunjang penanganan dan perawatan satwa.
Dalam rangkaian sambutan, pemerintah turut menekankan pentingnya penguatan kebijakan konservasi satwa dan tumbuhan di Indonesia. Lembaga Konservasi (LK) Umum didorong agar tidak hanya berorientasi pada wisata edukasi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap kegiatan konservasi.
Salah satu pendekatan yang disoroti adalah *One Plan Approach*, yaitu strategi perencanaan aksi konservasi yang terintegrasi. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah menargetkan penyusunan 38 dokumen rencana aksi konservasi serta 90 spesies memiliki dokumen konservasi di Jakarta pada 2029.
Penguatan konservasi juga menjadi bagian dari arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pemerintah mendorong peningkatan nilai Indeks Konservasi Satwa dan Tumbuhan sebagai respons terhadap tren indeks yang mengalami penurunan.
Selain itu, pemanfaatan teknologi modern, seperti *Assisted Reproductive Technology* (ART) atau teknologi reproduksi berbantuan, turut didorong untuk mendukung pengembangbiakan satwa secara terkontrol dan memperkuat pelestarian spesies yang membutuhkan perhatian khusus.
Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi pemberangkatan Merak Hijau hasil pengembangbiakan terkontrol dari Jagat Satwa Nusantara menuju Pulau Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon. Prosesi tersebut menjadi simbol komitmen βMerak Hijau Lestariβ sekaligus dukungan terhadap upaya konservasi satwa liar Indonesia.
Dalam wawancara bersama tim peliputan, Mbak Firly menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan tersebut adalah memberikan kesempatan kepada satwa untuk menjalani kehidupan yang lebih leluasa di alam. Menurutnya, konservasi tidak hanya berfokus pada pengembangbiakan dan pemeliharaan satwa di lingkungan terkontrol, tetapi juga memberikan ruang bagi satwa untuk hidup di habitat alaminya.
Peringatan HCPSN 2026 melalui kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian satwa membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya pemerintah dan lembaga konservasi, tetapi juga komunitas serta masyarakat.
Melalui program βMerak Hijau Lestariβ, Jagat Satwa Nusantara menunjukkan upaya konservasi yang tidak berhenti pada pengembangbiakan satwa di lingkungan terkontrol, tetapi juga mencakup persiapan pengembalian satwa ke habitat alaminya.
Penulis: M. Syafril Marib Setiawan Lebba











