MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 |
Guru Tidak Bisa Jalan Sendiri
“Guru sering kesepian”
Kalimat itu saya dengar dari seorang guru senior di Kabupaten Pangkep. Sepi bukan karena tidak ada murid. Sepi karena bebannya dipikul sendiri. Kurikulum ganti, siswa berubah, teknologi datang, administrasi menumpuk. Siapa tempat bertanya?
Jawabannya: MGMP. Musyawarah Guru Mata Pelajaran.
MGMP adalah komunitas paling nyata yang dimiliki guru. Bukan komunitas di atas kertas. Tapi komunitas yang duduk bareng, bedah soal, nangis bareng karena siswa tidak paham, dan ketawa bareng karena akhirnya menemukan cara mengajar yang berhasil.
Tapi hari ini, MGMP sedang di persimpangan. Ada yang hidup dan bertumbuh. Ada juga yang mati suri.
Apa itu MGMP sebenarnya, apa tantangannya, dan apa harapan kita agar MGMP jadi “rumah kedua” bagi guru di Indonesia, khususnya di Kabupaten Pangkep.
MGMP ITU APA SIH SEBENARNYA? BUKAN CUMA RAPAT BULAN
Banyak orang mengira MGMP = kumpul, tanda tangan, dapat sertifikat, pulang. Padahal esensi MGMP ada 3:
1. MGMP adalah Laboratorium Guru
Di kelas, guru tidak boleh gagal. Di depan 30 siswa, kita harus sempurna. Di MGMP, guru boleh gagal. Boleh bilang “Saya bingung ajarkan materi ini”. Boleh bawa RPP yang jelek untuk dibedah.
MGMP adalah tempat uji coba. Mau coba metode baru? Coba dulu di MGMP. Mau bikin soal HOTS? Bedah dulu di MGMP.
2. MGMP adalah Bank Sumber Daya
1 guru punya 1 ide. 30 guru di MGMP punya 30 ide.
Ada guru jago bikin media dari barang bekas. Ada guru jago bikin soal AKM. Ada guru yang sudah pernah lomba dan menang. Semua itu dibagi di MGMP.
Tanpa MGMP, guru harus mulai dari nol. Dengan MGMP, kita mulai dari langkah ke-10.
3. MGMP adalah Terapi Kesehatan Mental Guru*
Jujur saja. Profesi guru itu melelahkan. Ada orang tua komplain, ada siswa yang susah diatur, ada target nilai.
Di MGMP kita bisa bilang: “Saya capek”. Dan 29 guru lain akan jawab: “Saya juga”. Tiba-tiba bebannya jadi ringan. Karena kita sadar, kita tidak sendirian.
Singkatnya, MGMP adalah tempat guru belajar, agar siswa bisa belajar.
5 TANTANGAN BESAR MGMP SAAT INI
Saya keliling ke beberapa MGMP di Sulsel, termasuk Pangkep. Polanya sama. Ada 5 penyakit yang membuat MGMP tidak jalan.
1. Tantangan “Administrasi”: MGMP Jadi Pabrik Laporan*
Tujuan awal MGMP adalah meningkatkan kompetensi. Tapi yang terjadi: MGMP dikejar-kejar laporan. Buat program, buat LPJ, buat dokumentasi untuk dinas.
Akhirnya energi guru habis untuk “membuat bukti MGMP jalan”, bukan “membuat MGMP benar-benar jalan”. Yang penting ada foto. Yang penting ada absen. Substansinya hilang.
2. Tantangan “Anggota yang Pasif”: Datang karena Diwajibkan*
Masih banyak guru yang datang ke MGMP karena “disuruh Kepsek”. Datang, duduk di belakang, main HP, pulang.
Kenapa? Karena topiknya tidak relevan. Yang dibahas teori tingkat tinggi. Padahal yang dia butuhkan: “Gimana cara ngajar anak yang tidak bisa baca di kelas 7?”.
Ketika kebutuhan guru tidak dijawab, maka MGMP kehilangan ruhnya.
3. Tantangan “Narasumber itu-itu saja”: Ketergantungan ke Dinas
MGMP jalan hanya kalau ada dana dari dinas dan mendatangkan narasumber dari luar. Kalau tidak ada dana, MGMP mati.
Padahal di dalam MGMP sendiri banyak “narasumber”. Guru A jago Canva. Guru B jago bikin video pembelajaran. Guru C jago PTK. Kenapa tidak saling mengajar?
4. Tantangan “Jarak dan Waktu”: Khususnya di Daerah
Guru Pangkep yang sekolahnya di kecamatan ujung harus ke kota untuk MGMP. Biaya sendiri. Waktu mengajar jadi terganggu. Belum lagi macet.
Akhirnya banyak yang izin. Lama-lama MGMP sepi.
5. Tantangan “Tidak Ada Output Nyata”*
Guru akan semangat kalau merasa “saya dapat sesuatu”. Kalau 1 tahun MGMP isinya hanya ceramah, guru akan bertanya: “Buat apa saya capek-capek datang?”.
MGMP harus menghasilkan produk: bank soal bersama, modul ajar bersama, video pembelajaran bersama, lomba bersama.
HARAPAN DAN SOLUSI AGAR MGMP HIDUP DAN BERMAKNA
Saya masih sangat percaya dengan MGMP. Karena saya lihat sendiri, MGMP yang hidup bisa mengubah 1 kabupaten. Ini 8 harapan saya:
SOLUSI UNTUK PENGURUS MGMP KABUPATEN/KOTA
1. Ubah Pola: Dari “Top-Down” menjadi “Problem Based MGMP”
Jangan mulai dari “Bulan ini kita bahas Kurikulum”. Mulai dari pertanyaan guru: “Apa masalah terbesarmu bulan ini?”.
Contoh di MGMP Seni Budaya Pangkep: Masalahnya “Siswa tidak bisa menyanyi Indonesia Raya dengan benar”. Oke, maka 3 bulan ke depan MGMP fokus bedah teknik vokal, buat video contoh, dan lomba antar sekolah.
Ketika masalah guru selesai, mereka akan ketagihan datang.
2. Aktifkan “MGMP Berbasis Komunitas Digital”*
Jarak bukan alasan lagi. Bikin Grup WA yang isinya bukan forward. Isinya: “Hari ini saya share LKPD”. “Minggu ini saya share rubrik penilaian recorder”.
Bikin Kanal YouTube MGMP. Bikin Drive bersama. 1 jam sebulan Zoom untuk bedah RPP. Dengan begitu guru di daerah terpencil tetap terhubung.
3. Lahirkan “Guru Master” dari Internal*
Setiap MGMP harus punya 3-5 “Guru Master”. Dia bukan yang paling pintar. Tapi dia yang paling mau berbagi.
Kasih dia pelatihan TOT. Kasih dia waktu. Tugasnya: mengajar teman-temannya. Dengan begitu MGMP tidak tergantung narasumber luar.
SOLUSI UNTUK KEPALA SEKOLAH & DINAS PENDIDIKAN
4. Beri “Waktu Khusus” dan “Anggaran Mikro” untuk MGMP*
Jangan minta guru MGMP hari Sabtu jam 4 sore setelah ngajar seharian. Beri 1 hari kerja dalam sebulan khusus untuk MGMP.
Dan beri dana kecil, misal 500rb/bulan. Untuk beli kopi, print modul, atau beli kuota. Guru akan merasa dihargai.
5. Jadikan Keaktifan MGMP sebagai Portofolio Kenaikan Pangkat*
Guru yang aktif jadi narasumber MGMP, yang membuat modul bersama MGMP, harus dapat angka kredit.
Ini akan membuat guru berlomba-lomba berkontribusi, bukan hanya datang.
SOLUSI UNTUK GURU SEBAGAI ANGGOTA MGMP
6. Ubah Mindset: “Saya Datang untuk Memberi, Bukan Hanya Menerima”*
Kamu jago apa? Jago bikin PowerPoint? Jago bikin ice breaking? Jago main gitar? Bagikan.
MGMP akan hidup kalau semua orang merasa “saya dibutuhkan di sini”.
7. Buat “Projek Bersama MGMP” Setiap Semester
Contoh: MGMP Bahasa Indonesia se-Kabupaten Pangkep bikin “Antologi Puisi Guru”. MGMP IPA bikin “Video Praktikum Murah”. MGMP Seni bikin “Festival Lagu Wajib se-Pangkep”.
Ketika ada target bersama, maka kebersamaan akan lahir.
8. Jadikan MGMP Tempat “Gagal dengan Aman”*
Pemimpin MGMP harus berani bilang: “Di sini tidak ada guru hebat. Di sini semua kita sedang belajar”.
Ciptakan budaya saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Tidak ada guru senior vs junior. Yang ada: kita semua pembelajar.
HARAPAN SAYA UNTUK MGMP DI KABUPATEN PANGKEP*
Saya bermimpi 5 tahun dari sekarang, kalau ada guru baru di Pangkep dan dia bertanya “Saya harus kemana kalau bingung mengajar?”, maka jawabannya serempak: “Ke MGMP”.
Saya bermimpi MGMP Seni Budaya Pangkep jadi tempat lahirnya aransemen “Indonesia Raya”. MGMP Matematika jadi tempat lahirnya soal-soal yang membuat siswa tidak takut lagi dengan angka.
Saya bermimpi, setiap guru pulang dari MGMP tidak hanya bawa sertifikat. Tapi bawa ide baru, bawa semangat baru, dan bawa teman baru.
Karena ingat, kita tidak bisa mengubah 1000 siswa sendirian. Tapi 30 guru di dalam MGMP, bisa mengubah 10.000 siswa bersama-sama.
MGMP bukan beban tambahan. MGMP adalah napas.
MGMP bukan rapat. MGMP adalah pergerakan.
Untuk para pengurus MGMP: Terima kasih sudah mau berjuang.
Untuk para anggota MGMP: Ayo datang. Ayo bicara. Ayo berbagi.
Karena guru yang hebat tidak lahir dari ruang kelas. Guru yang hebat lahir dari komunitasnya.
Hidup MGMP. Hidup Guru Indonesia. (Sri DM, Dosen FSD UNM)











