MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 |
Ada satu hal yang selalu membuat saya kagum pada seni. Ia tidak pernah meminta KTP. Ia tidak pernah menanyakan kamu lulusan mana, agamamu apa, atau kamu tinggal di kota atau di desa. Ia datang begitu saja. Masuk lewat telinga, mata, atau sentuhan. Lalu diam-diam mengubah isi dada kita.
Mungkin karena itulah saya sampai pada satu keyakinan sederhana: seni itu universal.
Saya melihat buktinya setiap hari. Seorang anak SD di Makassar yang belum lancar membaca, begitu mendengar irama gendang, kakinya langsung ikut bergerak. Ia tidak tahu teori ritme. Tapi tubuhnya tahu cara menjawab. Di sisi lain, ada seorang kakek di Jepang yang meneteskan air mata saat mendengar lagu keroncong diputar. Ia tidak mengerti satu patah pun liriknya. Tapi ia mengerti betul rasa rindu yang dibawa nada itu.
Seperti yang pernah dikatakan Ludwig van Beethoven, “Musik adalah penghubung antara kehidupan spiritual dan kehidupan indrawi.”Kalimat itu tepat. Musik tidak menjelaskan dengan kata, ia langsung menyentuh.
Di situlah letak keajaiban. Bahasa bisa memisahkan kita. Agama bisa berbeda. Bendera bisa lain. Tapi ketika sebuah lagu dimainkan, ketika sebuah lukisan dipamerkan, ketika sebuah tari dimulai, sekat-sekat itu runtuh. Yang tersisa hanya manusia dengan segala rasa yang sama: takut, bahagia, rindu, marah, dan harapan.
Coba bayangkan sebuah gedung konser. Di dalamnya ada dokter, tukang ojek, guru, mahasiswa, pejabat. Latar belakangnya berbeda jauh. Tapi saat lampu meredup dan nada pertama mengalun, semua duduk dengan tenang yang sama. Saat lagu mencapai puncak, semua bertepuk tangan dengan semangat yang sama. Pulangnya pun membawa perasaan yang sama.
Leonardo da Vinci pernah menulis, “Seni tidak pernah selesai, hanya ditinggalkan.” Mungkin maksudnya, seni akan terus hidup selama ada manusia yang mau merasakannya. Dan selama manusia masih punya rasa, maka seni akan selalu punya rumah.
Padahal dunia hari ini sedang sakit karena terlalu banyak sekat. Kita ribut di media sosial karena berbeda pendapat. Kita saling curiga karena berbeda pilihan. Kita membangun tembok karena takut berbeda. Di tengah kondisi seperti ini, seni hadir seperti jembatan. Ia tidak memaksa kita setuju. Ia hanya mengajak kita merasakan dulu, sebelum menilai.
Sayangnya, di negeri kita sendiri, seni masih sering diperlakukan seperti tamu. Datang saat ada acara besar, lalu dilupakan. Di sekolah, jam seni adalah jam pertama yang dikorbankan saat ada target. Di rumah, orang tua lebih bangga anaknya les matematika daripada les musik. Di kantor pemerintah, anggaran untuk seni selalu jadi sisa.
Ini cara berpikir yang keliru. Kita menganggap seni hanya untuk orang berbakat. Padahal seni bukan soal menjadi maestro. Seni adalah soal menjadi manusia seutuhnya.
Anak belajar menggambar bukan agar nanti jadi pelukis terkenal. Ia belajar itu agar matanya terlatih melihat detail, agar hatinya belajar sabar, agar ia tahu bahwa setiap goresan punya makna.
Siswa ikut paduan suara bukan agar suaranya emas. Ia ikut itu agar belajar mendengarkan temannya, menunggu giliran, dan menyatukan suara. Dari situlah lahir toleransi yang tidak diajarkan lewat ceramah.
Masyarakat menonton teater bukan hanya untuk tertawa. Mereka menonton itu agar bisa masuk ke dalam kepala orang lain, merasakan hidup yang berbeda, dan pulang dengan empati yang lebih luas.
Pablo Picasso pernah mengingatkan, “Tujuan seni adalah mencuci debu kehidupan sehari-hari dari jiwa kita. “Benar. Di tengah hiruk pikuk tugas, ujian, dan tekanan hidup, kita butuh dicuci. Kita butuh ruang untuk bernapas.
Lihat bagaimana musik daerah bisa mempersatukan. Lagu dari Sumatera bisa dinyanyikan anak di Sulawesi. Tari dari Bali bisa dipelajari anak di Kalimantan. Tidak ada yang protes “itu bukan budaya saya”. Justru semua berebut mempelajari. Karena seni tidak pernah mengklaim wilayah. Ia menawarkan diri untuk dimiliki bersama.
Di era digital sekarang, seni justru semakin membuktikan sifat universalnya. Satu video tari di media sosial bisa ditonton jutaan orang dari 100 negara dalam semalam. Satu lukisan bisa memicu diskusi di benua yang berbeda. Teknologi mempercepat, tapi seni yang memberi isi. Tanpa seni, internet hanya akan penuh data kosong.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Jawabannya tidak muluk-muluk. Kita tidak perlu langsung membangun gedung opera di setiap kota.
Mulailah dari hal kecil. Pemerintah daerah bisa memastikan setiap sekolah punya alat musik dasar, meski hanya pianika dan gendang. Kepala sekolah bisa memberi ruang satu hari dalam seminggu untuk semua warga sekolah bernyanyi bersama. Guru bisa mengajak siswa menciptakan lagu tentang lingkungan sekolahnya sendiri. Orang tua bisa mengajak anak ke pameran, bukan hanya ke tempat les.
Perusahaan juga bisa ambil peran. Jangan hanya jadi sponsor saat ada festival besar. Buka ruang bagi karyawan untuk berkarya. Karena karyawan yang jiwanya sehat akan bekerja lebih kreatif.
Yang paling penting adalah mengubah cara pandang. Berhenti bertanya “seni ini gunanya apa”. Pertanyaan yang benar adalah “apa jadinya kita kalau tanpa seni”.
Tanpa seni, anak-anak akan tumbuh pintar tapi kering. Mereka bisa menghitung cepat tapi tidak bisa merasakan. Mereka bisa berdebat hebat tapi tidak bisa bekerja sama. Mereka bisa sukses tapi hidupnya hampa.
W.S. Rendra dalam kalimatnya, “Seni adalah peluru yang ditembakkan ke jantung masyarakat.” Seni punya kekuatan menggugah, membangunkan, dan mengubah cara berpikir.
Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari gedung pencakar langitnya atau dari nilai ekspornya. Bangsa yang besar diukur dari seberapa kaya jiwanya. Dan kekayaan jiwa itu dipupuk oleh seni.
Saya teringat kata-kata Ki Hajar Dewantara, “Pendidikan adalah usaha kebudayaan untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakat” Bukankah seni adalah alat paling pas untuk menyelaraskan ketiganya?
Saya percaya, jika sejak kecil anak-anak kita dibiasakan hidup dengan seni, 20 tahun dari sekarang kita akan punya generasi yang berbeda. Generasi yang lebih lembut tapi tegas. Generasi yang kritis tapi berempati. Generasi yang berani berbeda tapi tetap mau bersatu.
Karena mereka sudah belajar sejak dini bahwa perbedaan nada bisa disatukan menjadi harmoni. Bahwa warna yang bertabrakan bisa jadi lukisan indah. Bahwa cerita yang berbeda bisa dipentaskan dalam satu panggung.
Jadi mari kita jaga api itu tetap menyala. Jangan biarkan studio musik sekolah kita kosong. Jangan biarkan dinding sekolah kita polos tanpa karya. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa pernah tahu rasanya merinding mendengar sebuah lagu.
Seni tidak akan membayar utang negara besok. Seni tidak akan menaikkan peringkat ujian nasional minggu depan. Tapi seni sedang menyiapkan manusia-manusia yang akan memimpin negeri ini dengan hati.
Selama masih ada orang yang bisa menangis karena sebuah bait puisi, selama masih ada anak yang bisa tertawa karena sebuah warna, selama masih ada komunitas yang bisa bersatu karena sebuah tarian, maka harapan itu masih ada.
Karena pada akhirnya, semua agama mengajarkan cinta. Semua ilmu mengajarkan kebenaran. Dan seni adalah cara kita merayakan keduanya. Seni adalah bahasa. Dan bahasa itu milik semua orang. (Sri DM, Dosen FSD UNM)











