Teropong Aspirasi Masyarakat
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • Login
  • Home
  • News
    • Semua
    • Daerah
    • Nasional
    SENI ADALAH BAHASA YANG TIDAK PERLU PENERJEMAH

    SENI ADALAH BAHASA YANG TIDAK PERLU PENERJEMAH

    Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa

    Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa

    Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu  Bungkam

    Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu Bungkam

    Kepala SMKN 6 Makassar Tanggapi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral Siswa Tertidur di Kelas

    Kepala SMKN 6 Makassar Tanggapi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral Siswa Tertidur di Kelas

    • Nasional
    • Daerah
  • Kontak
  • Redaksi
  • Home
  • News
    • Semua
    • Daerah
    • Nasional
    SENI ADALAH BAHASA YANG TIDAK PERLU PENERJEMAH

    SENI ADALAH BAHASA YANG TIDAK PERLU PENERJEMAH

    Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa

    Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa

    Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu  Bungkam

    Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu Bungkam

    Kepala SMKN 6 Makassar Tanggapi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral Siswa Tertidur di Kelas

    Kepala SMKN 6 Makassar Tanggapi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral Siswa Tertidur di Kelas

    • Nasional
    • Daerah
  • Kontak
  • Redaksi
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
Teropong Aspirasi Masyarakat
Home News Daerah

SENI ADALAH BAHASA YANG TIDAK PERLU PENERJEMAH

Muh. Ahmad by Muh. Ahmad
Juli 27, 2026
Reading Time:4min read
0
SENI ADALAH BAHASA YANG TIDAK PERLU PENERJEMAH

MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 |
Ada satu hal yang selalu membuat saya kagum pada seni. Ia tidak pernah meminta KTP. Ia tidak pernah menanyakan kamu lulusan mana, agamamu apa, atau kamu tinggal di kota atau di desa. Ia datang begitu saja. Masuk lewat telinga, mata, atau sentuhan. Lalu diam-diam mengubah isi dada kita.

RELATED POSTS

Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa

Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu Bungkam

Kepala SMKN 6 Makassar Tanggapi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral Siswa Tertidur di Kelas

Mungkin karena itulah saya sampai pada satu keyakinan sederhana: seni itu universal.

Saya melihat buktinya setiap hari. Seorang anak SD di Makassar yang belum lancar membaca, begitu mendengar irama gendang, kakinya langsung ikut bergerak. Ia tidak tahu teori ritme. Tapi tubuhnya tahu cara menjawab. Di sisi lain, ada seorang kakek di Jepang yang meneteskan air mata saat mendengar lagu keroncong diputar. Ia tidak mengerti satu patah pun liriknya. Tapi ia mengerti betul rasa rindu yang dibawa nada itu.

Seperti yang pernah dikatakan Ludwig van Beethoven, “Musik adalah penghubung antara kehidupan spiritual dan kehidupan indrawi.”Kalimat itu tepat. Musik tidak menjelaskan dengan kata, ia langsung menyentuh.

Di situlah letak keajaiban. Bahasa bisa memisahkan kita. Agama bisa berbeda. Bendera bisa lain. Tapi ketika sebuah lagu dimainkan, ketika sebuah lukisan dipamerkan, ketika sebuah tari dimulai, sekat-sekat itu runtuh. Yang tersisa hanya manusia dengan segala rasa yang sama: takut, bahagia, rindu, marah, dan harapan.

Coba bayangkan sebuah gedung konser. Di dalamnya ada dokter, tukang ojek, guru, mahasiswa, pejabat. Latar belakangnya berbeda jauh. Tapi saat lampu meredup dan nada pertama mengalun, semua duduk dengan tenang yang sama. Saat lagu mencapai puncak, semua bertepuk tangan dengan semangat yang sama. Pulangnya pun membawa perasaan yang sama.

Leonardo da Vinci pernah menulis, “Seni tidak pernah selesai, hanya ditinggalkan.” Mungkin maksudnya, seni akan terus hidup selama ada manusia yang mau merasakannya. Dan selama manusia masih punya rasa, maka seni akan selalu punya rumah.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Padahal dunia hari ini sedang sakit karena terlalu banyak sekat. Kita ribut di media sosial karena berbeda pendapat. Kita saling curiga karena berbeda pilihan. Kita membangun tembok karena takut berbeda. Di tengah kondisi seperti ini, seni hadir seperti jembatan. Ia tidak memaksa kita setuju. Ia hanya mengajak kita merasakan dulu, sebelum menilai.

Sayangnya, di negeri kita sendiri, seni masih sering diperlakukan seperti tamu. Datang saat ada acara besar, lalu dilupakan. Di sekolah, jam seni adalah jam pertama yang dikorbankan saat ada target. Di rumah, orang tua lebih bangga anaknya les matematika daripada les musik. Di kantor pemerintah, anggaran untuk seni selalu jadi sisa.

Ini cara berpikir yang keliru. Kita menganggap seni hanya untuk orang berbakat. Padahal seni bukan soal menjadi maestro. Seni adalah soal menjadi manusia seutuhnya.

Anak belajar menggambar bukan agar nanti jadi pelukis terkenal. Ia belajar itu agar matanya terlatih melihat detail, agar hatinya belajar sabar, agar ia tahu bahwa setiap goresan punya makna.
Siswa ikut paduan suara bukan agar suaranya emas. Ia ikut itu agar belajar mendengarkan temannya, menunggu giliran, dan menyatukan suara. Dari situlah lahir toleransi yang tidak diajarkan lewat ceramah.
Masyarakat menonton teater bukan hanya untuk tertawa. Mereka menonton itu agar bisa masuk ke dalam kepala orang lain, merasakan hidup yang berbeda, dan pulang dengan empati yang lebih luas.

Pablo Picasso pernah mengingatkan, “Tujuan seni adalah mencuci debu kehidupan sehari-hari dari jiwa kita. “Benar. Di tengah hiruk pikuk tugas, ujian, dan tekanan hidup, kita butuh dicuci. Kita butuh ruang untuk bernapas.

Lihat bagaimana musik daerah bisa mempersatukan. Lagu dari Sumatera bisa dinyanyikan anak di Sulawesi. Tari dari Bali bisa dipelajari anak di Kalimantan. Tidak ada yang protes “itu bukan budaya saya”. Justru semua berebut mempelajari. Karena seni tidak pernah mengklaim wilayah. Ia menawarkan diri untuk dimiliki bersama.

Di era digital sekarang, seni justru semakin membuktikan sifat universalnya. Satu video tari di media sosial bisa ditonton jutaan orang dari 100 negara dalam semalam. Satu lukisan bisa memicu diskusi di benua yang berbeda. Teknologi mempercepat, tapi seni yang memberi isi. Tanpa seni, internet hanya akan penuh data kosong.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Jawabannya tidak muluk-muluk. Kita tidak perlu langsung membangun gedung opera di setiap kota.

Mulailah dari hal kecil. Pemerintah daerah bisa memastikan setiap sekolah punya alat musik dasar, meski hanya pianika dan gendang. Kepala sekolah bisa memberi ruang satu hari dalam seminggu untuk semua warga sekolah bernyanyi bersama. Guru bisa mengajak siswa menciptakan lagu tentang lingkungan sekolahnya sendiri. Orang tua bisa mengajak anak ke pameran, bukan hanya ke tempat les.

Perusahaan juga bisa ambil peran. Jangan hanya jadi sponsor saat ada festival besar. Buka ruang bagi karyawan untuk berkarya. Karena karyawan yang jiwanya sehat akan bekerja lebih kreatif.

Yang paling penting adalah mengubah cara pandang. Berhenti bertanya “seni ini gunanya apa”. Pertanyaan yang benar adalah “apa jadinya kita kalau tanpa seni”.

Tanpa seni, anak-anak akan tumbuh pintar tapi kering. Mereka bisa menghitung cepat tapi tidak bisa merasakan. Mereka bisa berdebat hebat tapi tidak bisa bekerja sama. Mereka bisa sukses tapi hidupnya hampa.
W.S. Rendra dalam kalimatnya, “Seni adalah peluru yang ditembakkan ke jantung masyarakat.” Seni punya kekuatan menggugah, membangunkan, dan mengubah cara berpikir.

Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari gedung pencakar langitnya atau dari nilai ekspornya. Bangsa yang besar diukur dari seberapa kaya jiwanya. Dan kekayaan jiwa itu dipupuk oleh seni.

Saya teringat kata-kata Ki Hajar Dewantara, “Pendidikan adalah usaha kebudayaan untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakat” Bukankah seni adalah alat paling pas untuk menyelaraskan ketiganya?

Saya percaya, jika sejak kecil anak-anak kita dibiasakan hidup dengan seni, 20 tahun dari sekarang kita akan punya generasi yang berbeda. Generasi yang lebih lembut tapi tegas. Generasi yang kritis tapi berempati. Generasi yang berani berbeda tapi tetap mau bersatu.

Karena mereka sudah belajar sejak dini bahwa perbedaan nada bisa disatukan menjadi harmoni. Bahwa warna yang bertabrakan bisa jadi lukisan indah. Bahwa cerita yang berbeda bisa dipentaskan dalam satu panggung.

Jadi mari kita jaga api itu tetap menyala. Jangan biarkan studio musik sekolah kita kosong. Jangan biarkan dinding sekolah kita polos tanpa karya. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa pernah tahu rasanya merinding mendengar sebuah lagu.

Seni tidak akan membayar utang negara besok. Seni tidak akan menaikkan peringkat ujian nasional minggu depan. Tapi seni sedang menyiapkan manusia-manusia yang akan memimpin negeri ini dengan hati.

Selama masih ada orang yang bisa menangis karena sebuah bait puisi, selama masih ada anak yang bisa tertawa karena sebuah warna, selama masih ada komunitas yang bisa bersatu karena sebuah tarian, maka harapan itu masih ada.

Karena pada akhirnya, semua agama mengajarkan cinta. Semua ilmu mengajarkan kebenaran. Dan seni adalah cara kita merayakan keduanya. Seni adalah bahasa. Dan bahasa itu milik semua orang. (Sri DM, Dosen FSD UNM)

Bagaimana Reaksi Anda ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Bagikan ini:

  • Skype
  • Pinterest
  • Pocket
  • Reddit
  • LinkedIn
  • Tumblr

Terkait

ShareTweetSendShareShare
Muh. Ahmad

Muh. Ahmad

Related Posts

Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa
Nasional

Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa

Juli 26, 2026
Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu  Bungkam
Daerah

Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu Bungkam

Juli 26, 2026
Kepala SMKN 6 Makassar Tanggapi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral Siswa Tertidur di Kelas
Daerah

Kepala SMKN 6 Makassar Tanggapi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral Siswa Tertidur di Kelas

Juli 25, 2026
Rombongan Bunda PAUD Kabupaten Soppeng Tinjau Pelaksanaan MPLS di TK Negeri 1 Takalala
Daerah

Rombongan Bunda PAUD Kabupaten Soppeng Tinjau Pelaksanaan MPLS di TK Negeri 1 Takalala

Juli 22, 2026
SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA
News

SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA

Juli 21, 2026
Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna
News

Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna

Juli 17, 2026
Please login to join discussion

Cuaca

Fans Page

Teropong Aspirasi Masyarakat.com

Paling Popoler

  • Penempatan Guru PPPK di Sulsel Disorot, Dinilai  Semrawut dan Abaikan Jarak Domisili

    Penempatan Guru PPPK di Sulsel Disorot, Dinilai Semrawut dan Abaikan Jarak Domisili

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu Bungkam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cabang Dinas Diberi Kewenangan SPMB, Disdik Sulsel Tegaskan Hal Itu Susuai Juknis Pemenuhan Kuota SMA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacabdis Wilayah 1 Asqar, SE, MM Serahkan Bantuan Baznas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disdik Sulsel Perpanjang WFH dan WFA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pimpinan Baru SMA Negeri 3 Makassar: Andi Mashari Resmi Plt Kepala Sekolah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disdik Sulsel Percepat Penerapan Smart School

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Arsip

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Desember 2024
  • November 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Juni 2024
  • Mei 2024
  • April 2024
  • Maret 2024
  • Februari 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Oktober 2023
  • September 2023
  • Agustus 2023
  • Juli 2023
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • April 2023
  • Maret 2023
  • Februari 2023
  • Januari 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Agustus 2022
  • Juli 2022
  • Juni 2022
  • Mei 2022
  • April 2022
  • Maret 2022
  • Februari 2022
  • Januari 2022
  • Desember 2021
  • November 2021
  • Oktober 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Mei 2021
  • April 2021
  • Maret 2021
  • Februari 2021
  • Januari 2021
Teropong Aspirasi Masyarakat

Media Online Teropong Aspirasi masyarakat

Pos-pos Terbaru

  • SENI ADALAH BAHASA YANG TIDAK PERLU PENERJEMAH
  • Ketua Umum PJI: “Pak Presiden, Jurnalis Bukan Pengkhianat Bangsa
  • Seleksi BCKS Disdik Sulsel Tuai Sorotan, Guru Resah Terancam Dipindahkan Jauh dari Keluarga, Pejabat;Dikonfirmasikan Terkait Hal itu Bungkam

Kategori

  • Daerah
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lifestyle
  • Nasional
  • News
  • Olaraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Uncategorized

© 2021 - 2021 Teropong Aspirasi Masyarakat

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Daerah
  • Kontak
  • Redaksi

© 2021 - 2021 Teropong Aspirasi Masyarakat

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Kirim Berita

    error: Konten dilindungi !!