MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 | Seni Bukan “Ekstra”, Seni Adalah Nafas
Di tengah hiruk pikuk tuntutan IPK, target penjualan, dan notifikasi HP yang tidak pernah berhenti, kita sering lupa bertanya: “Kapan terakhir kali kita benar-benar merasa?”
Seni adalah jawabannya.
Seni bukan sekadar pelajaran menggambar di SD, bukan sekadar ekstrakurikuler paduan suara, bukan sekadar pameran lukisan yang mahal. Seni adalah cara manusia memaknai hidup. Lewat lagu “Indonesia Raya” kita belajar nasionalisme. Lewat tari Pakarena kita belajar tentang kesetiaan. Lewat puisi kita belajar merangkai luka jadi kata.
Tapi hari ini, seni sedang diuji. Ia terjepit di antara logika pasar dan algoritma.
Apa tantangan seni hari ini, dan apa harapan kita agar seni tidak punah ditelan zaman?
5 TANTANGAN TERBESAR SENI DI ERA 2026
1. Tantangan Marginalisasi: “Seni Itu Tidak Menghasilkan Uang”
Ini kalimat paling menyakitkan yang sering didengar anak seni. Orang tua menyuruh “cari jurusan yang pasti”. Sekolah memotong jam pelajaran seni untuk les Matematika. Kampus lebih bangga dengan juara olimpiade sains daripada juara lomba musik.
Akibatnya: Anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa seni adalah “hobi”, bukan “profesi”. Padahal industri kreatif menyumbang triliunan ke ekonomi. BTS, film Nussa, game lokal, semua itu seni. Tapi stigma ini membuat bibit-bibit seniman hebat mati sebelum berkembang.
2. Tantangan Homogenisasi: “Seni Seragam Ala TikTok”
Algoritma membuat kita semua melihat hal yang sama. 15 detik. Tren yang sama. Lagu yang sama. Filter yang sama.
Seni lokal seperti lagu “Cincing Banca” dari Makassar, tari Gandrung dari Banyuwangi, atau ukiran Toraja kalah saing dengan konten “dance challenge” yang viral 3 hari lalu hilang. Kita jadi punya selera seni yang seragam. Kita jadi lupa dengan warna, ritme, dan cerita dari tanah kita sendiri. Ini bahaya. Karena kalau identitas hilang, kita jadi bangsa tanpa wajah.
3. Tantangan Komodifikasi: “Seni Dijual, Bukan Dihayati”
Di satu sisi bagus, seniman bisa cari uang. Tapi di sisi lain berbahaya. Seni jadi diproduksi massal untuk “like” dan “view”.
Lagu dibuat 1 menit saja karena orang tidak sabar. Lukisan dibuat cepat untuk konten “speed painting”. Makna dikorbankan demi viral. Seniman jadi buruh konten, bukan pencipta makna. Seni kehilangan ruhnya.
4. Tantangan Akses dan Pendidikan: “Guru Seni yang Tidak Ada”
Coba cek di banyak SD-SMP di Kabupaten Pangkep dan daerah lain. Guru seni sering “rangkap jabatan”. Alat musik recorder tidak ada. Studio tari dipakai untuk gudang.
Kurikulum Merdeka sudah bagus dengan P5, tapi implementasinya masih timpang. Anak kota bisa les piano. Anak desa bahkan belum pernah pegang alat musik. Kesenjangan ini membuat bakat seni tidak tumbuh merata.
5. Tantangan Internal Seniman: “Krisis Kepercayaan Diri”
Karena 4 tantangan di atas, banyak seniman muda yang ragu. “Karyaku jelek”. “Nanti dibilang alay”. “Nanti tidak ada yang nonton”.
Mereka memilih diam. Padahal seni butuh keberanian untuk jujur dan rentan. Ketika seniman takut, maka suara-suara jujur di masyarakat akan hilang.
MENGAPA SENI HARUS KITA SELAMATKAN?
Sebelum bicara harapan, kita harus ingat dulu “untuk apa”.
Pertama, Seni adalah Vaksin Kesehatan Mental.
Di era anxiety dan burnout, melukis, menulis, menari, dan bermain musik adalah terapi paling murah dan paling jujur. Seni memberi ruang untuk marah, sedih, dan rindu tanpa menghakimi.
Kedua, Seni adalah Perekat Bangsa.
Saat politik memecah, seni menyatukan. Saat kita menyanyikan “Indonesia Raya” bersama-sama dengan recorder di kelas, saat itu kita tidak peduli kamu dari Pangkep atau dari Papua. Kita satu. Bhinneka Tunggal Ika hidup lewat seni.
Ketiga, Seni adalah Mesin Solusi.
Masalah sampah? Ada seniman yang bikin instalasi dari sampah. Masalah bullying? Ada teater yang mengangkat isunya. Masalah literasi? Ada komik dan film. Seniman adalah problem solver yang berpikir dengan rasa, bukan hanya dengan data.
7 HARAPAN DAN SOLUSI UNTUK MASA DEPAN SENI INDONESIA
Saya masih optimis. Karena selama masih ada anak SD yang berani maju menyanyi, selama masih ada pemuda yang berani memetik gitar, harapan itu ada. Ini 7 harapan saya:
HARAPAN UNTUK PEMERINTAH & SEKOLAH
1. Jadikan Seni Mata Pelajaran “Wajib Dihargai”, Bukan “Wajib Formalitas”*
Jangan hanya ada di kurikulum. Pastikan ada guru seni lulusan yang kompeten di setiap sekolah. Pastikan ada anggaran untuk alat musik, cat, dan panggung.
Evaluasi guru seni jangan dari “apakah kelasnya rapi”, tapi dari “apakah anak-anak jadi lebih kreatif dan berani berekspresi”.
2. “Satu Sekolah Satu Karya Budaya Lokal”
Harapan saya, setiap sekolah di Pangkep punya 1 proyek wajib: mengangkat budaya lokal ke dalam seni. SMP A aransemen “Indonesia Raya”. SD B membuat drama tentang sejarah Kerajaan Gowa.
Ini akan membuat anak-anak bangga dengan akarnya, bukan hanya bangga dengan K-Pop.
HARAPAN UNTUK INDUSTRI & MEDIA
3. Bangun Ekosistem, Bukan Hanya Panggung
Jangan hanya bikin lomba. Bangun juga ruang latihan gratis, studio rekaman komunitas, galeri untuk anak SMA. Kasih pelatihan tentang cara monetisasi karya secara etis.
Pemerintah dan swasta harus jadi “inkubator”, bukan hanya “juri”.
4. Lawan Algoritma dengan Kurasi*
TV, radio, dan platform digital harus punya kuota untuk menayangkan seni lokal. 30% lagu di radio adalah lagu daerah. 1 jam di TV adalah pertunjukan seni tradisional.
Kita harus “memaksa” telinga dan mata generasi muda untuk kenal dengan kekayaan sendiri sebelum mereka tenggelam di konten asing.
HARAPAN UNTUK ORANG TUA & MASYARAKAT
5. Ubah Mindset: “Seni adalah Keterampilan Hidup”
Orang tua, tolong. Anakmu yang suka menggambar tidak sedang “main-main”. Dia sedang belajar observasi, komposisi, dan kesabaran. Anakmu yang suka menari tidak sedang “buang waktu”. Dia sedang belajar disiplin dan kerja tim.
Dukung. Fasilitasi. Karena bisa jadi dari situlah rezeki dan jati dirinya akan lahir.
HARAPAN UNTUK KITA, PARA SENIMAN DAN PENIKMAT SENI
6. Berani “Jelek” Dulu, Baru Jadi “Bagus”
Untuk para seniman muda: Jangan takut memulai. Karya pertamamu pasti jelek. Posting saja. Tunjukkan saja. Seni adalah otot. Ia akan kuat kalau terus dilatih.
Berhenti membandingkan dirimu dengan seniman yang sudah 10 tahun berkarya. Bandingkan dirimu dengan dirimu kemarin.
7. Jadi “Penonton yang Aktif”, Bukan “Penonton yang Ngehujat”
Untuk kita semua: Datang ke pementasan seni di kampus. Beli karya UMKM lokal. Apresiasi teman yang berani tampil. Komentar yang membangun.
Seni mati bukan karena tidak ada yang membuat. Seni mati karena tidak ada yang menghargai.
HARAPAN TERAKHIR – JANGAN BIARKAN DUNIA MENJADI HENING
Bayangkan dunia tanpa musik. Bangun pagi tanpa lagu. Pulang kerja tanpa playlist. Upacara tanpa “Indonesia Raya”. Pernikahan tanpa tari. Duka tanpa puisi.
Dunia itu akan sangat sepi. Sangat logis. Sangat kering.
Tantangan memang besar. Stigma masih ada. Uang masih kurang. Tapi harapan saya sederhana:
Saya berharap 10 tahun dari sekarang, seorang anak di Pangkep bisa dengan bangga bilang, “Saya mau jadi seniman”. Dan orang tuanya akan jawab, “Bagus. Tekuni. Banggakan daerah kita lewat karyamu.”
Saya berharap sekolah bukan lagi tempat yang membunuh kreativitas, tapi tempat yang menyalakannya.
Saya berharap kita semua ingat bahwa manusia tidak hidup dari roti saja. Kita juga hidup dari keindahan, dari cerita, dari rasa.
Seni bukan pelengkap. Seni adalah inti.
Selama masih ada satu orang yang berani bermimpi, menggambar, menyanyi, dan menari, maka peradaban kita masih punya harapan.
Mari jaga api itu tetap menyala. (Sri DM, Dosen FSD UNM)










