MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 | Demam “Ranking” yang Menggerogoti Kampus dan Sekolah.
Lingkungan akademik seharusnya jadi rumah kedua untuk bertumbuh. Tempat bertanya, tempat menemukan ide. Tapi realitanya, banyak kampus dan sekolah kita hari ini berubah jadi arena gladiator.
Ada “demam ranking”. Ada obsesi IPK 4.00. Ada lomba karya ilmiah, olimpiade, dan beasiswa yang membuat mahasiswa dan siswa saling sikut.
Kompetisi itu sendiri tidak salah. Tanpa kompetisi, kita tidak akan terdorong untuk belajar lebih keras. Masalahnya muncul ketika kompetisi menjadi “tidak sehat”.
Kompetisi tidak sehat adalah ketika kita lebih sibuk mengalahkan teman daripada mengalahkan kebodohan diri sendiri. Ketika nilai lebih penting dari ilmu. Ketika menang jadi tujuan, bukan dampak dari proses belajar.
Tulisan ini adalah opini saya tentang seperti apa kompetisi sehat di lingkungan akademik seharusnya, mengapa ia penting, dan apa solusi konkretnya agar kita tidak lagi melahirkan “juara yang kosong”.
WAJAH KOMPETISI TIDAK SEHAT DI AKADEMIK
Sebelum bicara solusi, kita harus jujur dulu melihat penyakitnya. Ini 4 wajah kompetisi tidak sehat yang paling sering saya temui:
1. Kompetisi Beracun: “Menjatuhkan untuk Naik”
Ini bentuk paling parah. Ada mahasiswa yang sengaja tidak share materi, menyembunyikan info beasiswa, bahkan menyebar gosip agar saingannya drop. Di sekolah, ada yang membocorkan soal, mencontek, atau sengaja membuat kelompok diskusi jadi tidak produktif. Tujuannya satu: saya harus di atas, caranya terserah.
Akibatnya: kepercayaan antar teman hancur. Lingkungan akademik yang seharusnya kolaboratif jadi penuh curiga.
2. Kompetisi Kuantitatif: “Tuhan Bernama IPK dan Sertifikat”
Sistem kita terlalu fokus pada angka. IPK, jumlah sertifikat, jumlah lomba yang dimenangkan. Dosen dan guru tanpa sadar ikut mendorong ini dengan hanya memuji si ranking 1.
Mahasiswa jadi “pemburu nilai”. Belajar hanya saat mau UTS/UAS. Ikut lomba hanya untuk sertifikat, bukan untuk belajar prosesnya. Setelah lulus, banyak yang “kosong”. IPK 3.9 tapi tidak bisa presentasi, tidak bisa riset, tidak punya rasa ingin tahu.
3. Kompetisi Eksklusif: “Hanya untuk Orang-Orang Tertentu”* Kompetisi sehat harusnya membuka pintu untuk semua. Tapi sering yang terjadi: hanya 10 mahasiswa “favorit dosen” yang dikirim lomba. Hanya siswa “juara kelas” yang dilatih olimpiade.
Padahal Thomas Edison pernah gagal 1000 kali. Albert Einstein pernah dibilang bodoh. Kalau dari awal kita sudah mematikan kesempatan, dari mana bibit-bibit baru akan muncul?
4. Kompetisi yang Melupakan Kesehatan Mental
Tekanan untuk selalu jadi yang terbaik membuat banyak siswa dan mahasiswa burnout, cemas, bahkan depresi. Ada yang begadang 3 hari demi tugas, ada yang sampai tidak makan karena takut kalah.
Kita menciptakan generasi yang pintar secara akademik tapi rapuh secara mental. Ini bukan kemenangan. Ini kegagalan sistem.
FILOSOFI KOMPETISI SEHAT – “BERSAING UNTUK BERTUMBUH BERSAMA”
Lalu seperti apa kompetisi yang sehat? Saya menyebutnya dengan 3 pilar:
Pilar 1: Berorientasi pada Mastery, Bukan Performance
Psikolog Carol Dweck menyebutnya “Growth Mindset”. Di kompetisi sehat, pertanyaannya bukan “Siapa yang paling pintar?” tapi “Bagaimana saya bisa lebih baik dari kemarin?”.
Contoh: Lomba Debat. Tim A kalah. Tapi setelah itu mereka menganalisis rekaman, belajar logika baru, dan 3 bulan kemudian menang. Itu kompetisi sehat. Tujuannya adalah penguasaan skill, bukan validasi ego.
Pilar 2: Kolaborasi di Tengah Kompetisi “Coopetition”
Lawan bukanlah musuh. Lawan adalah cermin untuk melihat kekurangan kita. Di Silicon Valley, perusahaan teknologi saling bersaing, tapi juga saling riset bareng.
Di akademik, ini artinya: setelah lomba karya ilmiah selesai, tim pemenang mau berbagi metodologi ke tim lain. Ada “study club” lintas jurusan. Ada budaya peer teaching. Kita bersaing saat lomba, tapi berteman saat belajar.
Pilar 3: Adil, Inklusif, dan Menjunjung Etika*
Aturannya jelas. Juri transparan. Tidak ada “anak dosen”. Dan yang paling penting: prosesnya terhormat. Tidak ada plagiasi, tidak ada data fiktif, tidak ada politik.
Kompetisi sehat juga memberi ruang untuk semua kecerdasan. Ada lomba menulis, ada lomba robotik, ada lomba mengajar, ada lomba seni. Karena tidak semua orang hebat di matematika.
SOLUSI UNTUK LEMBAGA: SEKOLAH & KAMPUS*
1. Ubah Sistem Penilaian: Dari “Norm Reference” ke “Criterion Reference”
Selama ini kita pakai sistem “lonceng”. Harus ada yang A, B, C. Otomatis teman jadi saingan.
Gantilah. Pakai sistem “kriteria”. Jika kamu bisa mencapai 90% dari indikator kompetensi, kamu dapat A. Titik. Tidak peduli temanmu dapat berapa. Dengan begitu, teman bisa saling membantu agar semua lulus A. Universitas di Finlandia sudah menerapkan ini.
2. Wajibkan “Portofolio Proses”, Bukan Hanya “Hasil Akhir”
Untuk lomba dan tugas besar, jangan hanya nilai produk akhirnya. Nilai juga prosesnya. Lampirkan logbook, catatan gagal, revisi ke-5, dan refleksi diri.
Ini akan membunuh budaya “joki tugas” dan “beli karya”. Siswa akan belajar bahwa gagal itu bagian dari proses, bukan aib.
3. Bangun “Budaya Apresiasi Usaha”
Selain “Juara 1”, adakan penghargaan “Most Improved”, “Best Teamwork”, “Best Research Idea”. Di Jepang, guru SD akan bertepuk tangan paling meriah untuk anak yang nilainya naik dari 40 ke 60, bukan untuk anak yang dari 90 ke 95.
Ini melatih kita menghargai progres, bukan hanya kesempurnaan.
SOLUSI UNTUK DOSEN & GURU
4. Jadilah Fasilitator, Bukan Wasit
Tugas guru bukan hanya memberi soal dan memberi nilai. Tugas guru adalah mendesain kompetisi yang mendidik.
Contoh: Daripada “Lomba Ranking 1”, buat “Project Based Learning” antar kelompok. Kelompok A vs Kelompok B membuat solusi untuk sampah di Pangkep. Menang kalah ada, tapi outputnya adalah solusi nyata untuk masyarakat. Kompetisi jadi punya makna.
5. Ajarkan “Literasi Kompetisi” di Kelas
Luangkan 1 pertemuan untuk membahas: Apa itu sportivitas? Bagaimana cara kalah dengan elegan? Bagaimana cara menang tanpa sombong? Bagaimana cara memberi kritik yang membangun?
Ini sama pentingnya dengan pelajaran matematika. Karena soft skill inilah yang dipakai di dunia kerja.
SOLUSI UNTUK SISWA & MAHASISWA
6. Terapkan “Kompetisi dengan Diri Sendiri”
Setiap awal semester, buat jurnal: “Skill apa yang ingin saya kuasai 4 bulan ke depan?”. Bukan “IP berapa yang ingin saya dapat?”.
Ukur kemajuanmu dari dirimu 1 bulan lalu. Apakah presentasimu sudah lebih lancar? Apakah tulisanmu sudah lebih runtut? Jika iya, itu kemenangan. Ini akan mengurangi kecemasan karena fokusmu internal, bukan eksternal.
7. Bangun Komunitas Belajar, Bukan Geng Saingan
Bentuk kelompok belajar lintas kemampuan. Yang pintar ngajarin, yang belum paham bertanya. Aturannya: tidak boleh ada yang ketinggalan.
Ini melatih 2 hal sekaligus: empati dan penguasaan materi. Karena cara terbaik menguasai sesuatu adalah dengan mengajarinya.
SOLUSI UNTUK ORANG TUA
8. Ubah Pertanyaan di Rumah
Berhenti bertanya “Kamu ranking berapa?”. Mulai bertanya “Apa hal baru yang kamu pelajari minggu ini?”, “Apa tantangan terbesarmu dan bagaimana kamu mengatasinya?”, “Kamu bangga sama usaha apa?”.
Validasi proses akan menciptakan anak yang tangguh. Validasi hasil akan menciptakan anak yang takut gagal.
KOMPETISI ADALAH ALAT, BUKAN TUJUAN
Mari kita luruskan. Tujuan pendidikan bukan mencetak juara. Tujuan pendidikan adalah mencetak manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan bermanfaat.
Kompetisi hanyalah salah satu alat untuk mencapai tujuan itu. Sama seperti pisau. Di tangan koki, pisau menciptakan makanan. Di tangan penjahat, pisau melukai.
Tugas kita bersama adalah memastikan “pisau” kompetisi ini dipegang oleh “koki”.
Di lingkungan akademik Kabupaten Pangkep, di Makassar, di seluruh Indonesia, kita butuh lebih banyak kompetisi yang menghangatkan, bukan membakar. Kompetisi yang setelah selesai, semua orang merasa: “Saya jadi lebih hebat karena ikut ini”, bukan “Saya gagal karena tidak juara”.
Karena pada akhirnya, 10 tahun dari sekarang tidak ada yang akan ingat siapa juara 1 olimpiade SMA. Tapi semua orang akan ingat siapa yang jadi pemimpin yang bijaksana, siapa yang jadi peneliti yang menemukan obat, siapa yang jadi guru yang menginspirasi.
Dan orang-orang hebat itu tidak lahir dari kompetisi yang saling menjatuhkan. Mereka lahir dari kompetisi yang saling mengangkat.
Mari kita mulai dari kelas kita, dari kampus kita, dari diri kita sendiri. Bersainglah. Tapi bersainglah dengan sehat. (Sri DM, Dosen FSD UNM)










