Teropong Aspirasi Masyarakat
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • Login
  • Home
  • News
    • Semua
    • Daerah
    • Nasional
    SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA

    SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA

    Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna

    Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna

    Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel

    Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel

    Legislator Sinjai Bahas Jalur Afirmasi di Disdik Sulsel

    Legislator Sinjai Bahas Jalur Afirmasi di Disdik Sulsel

    • Nasional
    • Daerah
  • Kontak
  • Redaksi
  • Home
  • News
    • Semua
    • Daerah
    • Nasional
    SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA

    SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA

    Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna

    Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna

    Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel

    Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel

    Legislator Sinjai Bahas Jalur Afirmasi di Disdik Sulsel

    Legislator Sinjai Bahas Jalur Afirmasi di Disdik Sulsel

    • Nasional
    • Daerah
  • Kontak
  • Redaksi
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
Teropong Aspirasi Masyarakat
Home News

Menjembatani Jurang Seni Budaya: Refleksi Peran Guru dan Pembuat Kebijakan di Ruang Kelas

Muh. Ahmad by Muh. Ahmad
Juli 4, 2026
Reading Time:4min read
0
Menjembatani Jurang Seni Budaya: Refleksi Peran Guru dan Pembuat Kebijakan di Ruang Kelas

MAKASSAR, Teropongaspirasimasyarakat.com – Pendidikan seni budaya menghadapi kesenjangan krusial antara idealisme kurikulum dan realitas ruang kelas. Naskah ini merefleksikan bagaimana guru berjuang menavigasi keterbatasan, sementara pembuat kebijakan memegang kunci untuk menyediakan ekosistem pendukung yang inklusif, relevan, dan memberdayakan kreativitas siswa secara menyeluruh.

RELATED POSTS

SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA

Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna

Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel

KelasPendidikan seni budaya acap kali ditempatkan pada posisi yang dilematis dalam sistem pendidikan modern. Di satu sisi, mata pelajaran ini diakui secara teoritis sebagai instrumen penting untuk membentuk karakter, mengasah kreativitas, dan menumbuhkan apresiasi estetika. Namun, di sisi lain, dalam realitas operasional sekolah, pendidikan seni sering kali dipinggirkan, dianggap sebagai mata pelajaran pelengkap, dan tergerus oleh dominasi mata pelajaran eksakta yang berorientasi pada ujian nasional atau standarisasi nilai.

Kondisi ini menciptakan jurang pemisah yang lebar antara ekspektasi kurikulum dan implementasi di ruang kelas. Untuk menjembatani jurang tersebut, diperlukan pemahaman mendalam mengenai refleksi peran ganda, yakni guru sebagai ujung tombak eksekutor pembelajaran dan pembuat kebijakan sebagai arsitek sistem pendidikan.

Jurang dalam pendidikan seni budaya tidak muncul begitu saja, melainkan hasil akumulasi dari berbagai faktor sistemik dan kultural. Salah satu akar utamanya adalah reduksi makna seni itu sendiri. Dalam banyak kasus, pengajaran seni di sekolah disederhanakan menjadi sekadar aktivitas menggambar atau menghafal teori seni, kehilangan esensi utamanya sebagai proses eksplorasi ekspresi, pemikiran kritis, dan refleksi sosial.Selain itu, terdapat masalah struktural yang mendasar. Kurangnya alokasi waktu, minimnya fasilitas dan sarana prasarana penunjang seperti sanggar, alat musik, atau bahan praktik, serta ketiadaan apresiasi yang setara dengan mata pelajaran lain, membuat siswa dan orang tua memandang seni sebelah mata.

Hal ini diperparah oleh orientasi sistem pendidikan yang lebih mengutamakan capaian kognitif terukur, sehingga ruang bagi pembelajaran berbasis afektif dan psikomotorik yang menjadi inti dari pendidikan seni menjadi sangat terbatas.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, guru seni budaya memikul beban dan tanggung jawab yang sangat berat sekaligus mulia. Guru bukan sekadar penyampai materi kurikulum, melainkan katalisator yang harus mampu menyalakan api kreativitas di dalam diri setiap siswa.Dalam konteks menjembatani jurang seni budaya, peran guru sangat krusial melalui beberapa langkah reflektif berikut:
1. Mengubah Paradigma PembelajaranGuru harus berani keluar dari zona nyaman metode pengajaran konvensional. Pembelajaran seni tidak boleh lagi berpusat pada dogma atau instruksi kaku (“guru adalah pusat”), melainkan harus berpusat pada siswa (student-centered). Guru perlu memfasilitasi eksplorasi, memberikan kebebasan berekspresi, dan mendorong siswa untuk menemukan suara unik mereka sendiri melalui medium seni.
2. Kontekstualisasi Budaya LokalIndonesia memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang luar biasa. Guru dapat menjembatani jurang antara teori seni global dan realitas siswa dengan membawa muatan lokal ke dalam ruang kelas. Mengintegrasikan seni tari, musik daerah, atau kriya tradisional ke dalam proyek modern tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuat pembelajaran menjadi lebih relevan dan dekat dengan identitas siswa.
3. Menumbuhkan Kemampuan Berpikir KritisSeni adalah medium terbaik untuk melatih kepekaan sosial dan berpikir kritis. Guru dapat menugaskan siswa untuk menganalisis suatu karya seni berdasarkan konteks sejarahnya, atau menggunakan seni sebagai alat untuk mengekspresikan pendapat mengenai isu-isu terkini. Dengan demikian, seni menjadi jendela bagi siswa untuk memahami dunia di sekitar mereka dan menumbuhkan empati.
4. Menciptakan Ruang Aman InklusifRuang kelas seni harus menjadi tempat yang aman di mana kesalahan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses kreatif. Guru berperan penting dalam membangun ekosistem saling menghargai antarsiswa, menghilangkan perundungan terkait hasil karya, dan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa setiap ekspresi seni memiliki nilai dan keunikannya tersendiri.Namun, harus diakui pula bahwa guru memiliki keterbatasan.

Guru sering kali berjuang seorang diri dengan sumber daya yang minim, terjebak dalam administrasi yang menyita waktu, dan minimnya pelatihan lanjutan yang memadai. Semangat idealisme guru dapat dengan mudah tergerus oleh realitas kesejahteraan dan sistem yang tidak mendukung. Oleh karena itu, peran guru tidak akan berjalan optimal tanpa adanya dukungan penuh dari pembuat kebijakan.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Pembuat kebijakan, mulai dari tingkat kementerian, dinas pendidikan, hingga manajemen sekolah, memegang kendali atas arah dan kualitas pendidikan. Merekalah yang merumuskan kurikulum, mengalokasikan anggaran, dan menentukan standar kompetensi. Dalam konteks pendidikan seni budaya, pembuat kebijakan memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk menjembatani jurang yang ada melalui langkah-langkah transformatif:
1. Desain Kurikulum yang Fleksibel dan Relevan Kebijakan kurikulum harus memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan guru untuk menyesuaikan materi seni budaya dengan konteks dan potensi daerah masing-masing. Kurikulum yang terlalu padat dan teoritis harus dievaluasi agar lebih memberikan ruang pada praktik, eksplorasi, dan proyek kolaboratif yang mengasah keterampilan abad ke-21 (kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemikiran kritis).
2. Alokasi Anggaran dan Fasilitas yang MerataTidak dapat dipungkiri bahwa praktik seni membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Pembuat kebijakan harus memastikan adanya alokasi anggaran khusus yang transparan dan tepat sasaran untuk penyediaan peralatan seni di sekolah-sekolah, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ketersediaan fasilitas yang layak adalah bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan seni.
3. Peningkatan Kapasitas dan Kesejahteraan GuruKebijakan pengembangan profesionalisme guru harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial. Pelatihan-pelatihan bagi guru seni budaya harus berfokus pada pedagogi seni modern, pemanfaatan teknologi, dan integrasi seni dengan disiplin ilmu lain (pendekatan STEAM atau Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Di saat yang bersamaan, peningkatan kesejahteraan guru tetap menjadi prioritas utama agar mereka dapat mengajar dengan fokus dan dedikasi tinggi.
4. Mengubah Sistem Evaluasi dan ApresiasiKebijakan evaluasi pendidikan perlu diperluas. Selama ini, penilaian sering kali berorientasi pada angka-angka kuantitatif yang sulit diterapkan pada mata pelajaran seni. Pembuat kebijakan harus mendorong sistem penilaian berbasis proses (portofolio) yang menghargai usaha, orisinalitas, dan perkembangan karakter siswa. Selain itu, perlu adanya ruang apresiasi yang lebih besar, seperti festival seni, pameran, dan kompetisi berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional, untuk memberikan panggung bagi karya-karya siswa.

Menjembatani jurang seni budaya di ruang kelas bukanlah tanggung jawab salah satu pihak, melainkan sebuah kolaborasi yang tak terelakkan antara guru dan pembuat kebijakan. Ibarat sebuah orkestra, pembuat kebijakan adalah komponis yang merancang partitur dan menyediakan instrumen terbaik, sementara guru adalah konduktor yang memimpin harmoni di atas panggung kelas.Ketika pembuat kebijakan memberikan dukungan penuh melalui kurikulum yang fleksibel, fasilitas yang memadai, dan apresiasi yang layak, guru akan memiliki energi dan sumber daya untuk mengeluarkan potensi terbaik dari setiap siswanya. Sebaliknya, sehebat apa pun kebijakan yang dirancang di atas kertas, ia akan menjadi dokumen mati tanpa adanya dedikasi, inovasi, dan sentuhan manusiawi dari para guru di garis depan.Pada akhirnya, refleksi ini membawa kita pada kesadaran bahwa pendidikan seni budaya bukan sekadar tentang mencetak seniman-seniman besar. Lebih dari itu, pendidikan seni adalah proses pembentukan manusia seutuhnya (human development).

Melalui seni, kita mendidik generasi yang memiliki kepekaan rasa, kemampuan berpikir kreatif, karakter yang tangguh, dan toleransi terhadap keberagaman. Menjembatani jurang seni budaya adalah investasi jangka panjang kita untuk membangun peradaban bangsa yang lebih humanis dan berbudaya. Kedua belah pihak—baik guru maupun pembuat kebijakan—harus terus berjalan beriringan, menyamakan visi, dan berkomitmen untuk menjadikan ruang kelas sebagai tempat di mana keindahan dan kreativitas siswa dapat bertumbuh dengan subur. (Sri DM, Dosen FSD UNM)

Bagaimana Reaksi Anda ?
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0

Bagikan ini:

  • Skype
  • Pinterest
  • Pocket
  • Reddit
  • LinkedIn
  • Tumblr

Terkait

ShareTweetSendShareShare
Muh. Ahmad

Muh. Ahmad

Related Posts

SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA
News

SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA

Juli 21, 2026
Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna
News

Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna

Juli 17, 2026
Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel
Daerah

Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel

Juli 16, 2026
Legislator Sinjai Bahas Jalur Afirmasi di Disdik Sulsel
Daerah

Legislator Sinjai Bahas Jalur Afirmasi di Disdik Sulsel

Juli 16, 2026
Penempatan Guru PPPK di Sulsel Disorot, Dinilai  Semrawut dan Abaikan Jarak Domisili
Daerah

Penempatan Guru PPPK di Sulsel Disorot, Dinilai Semrawut dan Abaikan Jarak Domisili

Juli 16, 2026
Wagub Sulsel Terima Kunjungan BPS, Ajak Masyarakat Dukung Sensus Ekonomi 2026
Daerah

Cabang Dinas Diberi Kewenangan SPMB, Disdik Sulsel Tegaskan Hal Itu Susuai Juknis Pemenuhan Kuota SMA

Juli 14, 2026
Next Post
Disdik Sulsel Percepat Penerapan Smart School

Disdik Sulsel Percepat Penerapan Smart School

ASN Diberi Fleksibilitas Kerja untuk Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

ASN Diberi Fleksibilitas Kerja untuk Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

Please login to join discussion

Cuaca

Fans Page

Teropong Aspirasi Masyarakat.com

Paling Popoler

  • Penempatan Guru PPPK di Sulsel Disorot, Dinilai  Semrawut dan Abaikan Jarak Domisili

    Penempatan Guru PPPK di Sulsel Disorot, Dinilai Semrawut dan Abaikan Jarak Domisili

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacabdis Wilayah 1 Asqar, SE, MM Serahkan Bantuan Baznas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disdik Sulsel Perpanjang WFH dan WFA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cabang Dinas Diberi Kewenangan SPMB, Disdik Sulsel Tegaskan Hal Itu Susuai Juknis Pemenuhan Kuota SMA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pimpinan Baru SMA Negeri 3 Makassar: Andi Mashari Resmi Plt Kepala Sekolah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disdik Sulsel Percepat Penerapan Smart School

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Siswa SMAN 7 Maros Terima Bantuan Baznas Pemprov Sulsel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Arsip

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Desember 2024
  • November 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Juni 2024
  • Mei 2024
  • April 2024
  • Maret 2024
  • Februari 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Oktober 2023
  • September 2023
  • Agustus 2023
  • Juli 2023
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • April 2023
  • Maret 2023
  • Februari 2023
  • Januari 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Agustus 2022
  • Juli 2022
  • Juni 2022
  • Mei 2022
  • April 2022
  • Maret 2022
  • Februari 2022
  • Januari 2022
  • Desember 2021
  • November 2021
  • Oktober 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Mei 2021
  • April 2021
  • Maret 2021
  • Februari 2021
  • Januari 2021
Teropong Aspirasi Masyarakat

Media Online Teropong Aspirasi masyarakat

Pos-pos Terbaru

  • SENI DI TENGAH BISING – TANTANGAN DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN KITA
  • Membangun Kompetisi Sehat di Lingkungan Akademik – Dari Mengejar Ranking ke Mengejar Makna
  • Langkah Awal Menuju Cita-Cita, 270 Siswa Ikuti MPLS Sekolah Rakyat di Sulsel

Kategori

  • Daerah
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lifestyle
  • Nasional
  • News
  • Olaraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Uncategorized

© 2021 - 2021 Teropong Aspirasi Masyarakat

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Daerah
  • Kontak
  • Redaksi

© 2021 - 2021 Teropong Aspirasi Masyarakat

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Kirim Berita

    error: Konten dilindungi !!