Makassar:Teropongaspirasimasyarakat.com
Setiap 17 Agustus, kita pasti sibuk. Pasang bendera, lomba panjat pinang, upacara bendera, dan status “Merdeka!”. Tradisi yang sama diulang selama 81 tahun.
81 tahun. Bukan waktu yang sebentar. Dalam usia manusia, 81 tahun adalah usia sepuh yang penuh kebijaksanaan. Seharusnya di usia ini kita tidak lagi sibuk bertanya “kita siapa”, tapi sudah mantap menjawab “kita mau ke mana”.
Maka di tahun 2026 ini, mungkin sudah saatnya kita memaknai ulang kemerdekaan. Bukan sekadar memperingati, tapi mengevaluasi. Bukan hanya euforia, tapi introspeksi.
Dulu: Merdeka dari Penjajahan Fisik
Tahun 1945, makna merdeka sangat jelas dan sederhana: usir penjajah. Peluru dibalas peluru. Penjara dibalas keberanian.
Para pendiri bangsa tidak punya waktu untuk debat di Twitter. Mereka punya satu musuh nyata: Belanda, Jepang, Sekutu. Dan mereka menang.
Karena itu, 20 tahun pertama kemerdekaan adalah masa konsolidasi. Menyatukan 17.000 pulau, ratusan suku, ratusan bahasa. Itu pencapaian luar biasa.
Di titik ini, PR generasi 1945 sudah selesai. Mereka menyerahkan negara yang merdeka secara politik kepada kita.
Sekarang: Penjajahan Sudah Berganti Wajah
Masalahnya, di usia 81 tahun, musuh kita sudah tidak kelihatan. Ia tidak pakai seragam dan tidak datang dengan kapal perang.
Penjajahan hari ini datang dalam 3 bentuk:
Pertama, Penjajahan Ekonomi.
Kita merdeka, tapi dompet kita masih dijajah. Kita bangga “pasar terbesar di Asia Tenggara”, tapi yang paling diuntungkan adalah platform asing. Data kita, perilaku belanja kita, bahkan perhatian kita dijual.
Kita ekspor nikel mentah, impor baterai mobil listrik. Kita jual kopi biji, impor kopi sachet. Di mana letak kemandiriannya?
Kedua, Penjajahan Budaya.
Dulu penjajah melarang kita pakai bahasa sendiri. Sekarang kita sendiri yang malu pakai bahasa daerah di depan umum. Dulu mereka bawa budaya mereka. Sekarang kita yang berlomba-lomba meniru tanpa filter.
Anak SD sudah tahu influencer luar negeri, tapi tidak tahu pahlawan dari daerahnya sendiri. Ini bukan salah globalisasi. Ini soal kita lupa menjaga pagar.
Ketiga, Penjajahan Pikiran.
Yang paling berbahaya. Algoritma membuat kita terpecah. Hoaks membuat kita saling curiga. Buzzer membuat kita takut beda pendapat.
Kita merdeka bersuara, tapi tidak merdeka berpikir. Kita bebas memilih pemimpin, tapi pilihan itu seringkali hasil dari framing, bukan dari nalar.
Lalu, Apa Makna Merdeka di Usia 81?
Kalau musuhnya sudah ganti, maka perjuangannya juga harus ganti. Memaknai ulang kemerdekaan di usia 81 artinya menggeser fokus dari “melawan” menjadi “membangun”.
Merdeka artinya Berdaulat Pangan dan Energi.
Negara yang 81 tahun masih impor beras dan BBM akan sulit dibilang merdeka sepenuhnya. Ketahanan pangan dan energi adalah kemerdekaan jilid dua.
Merdeka artinya Punya Karya.
Bangsa besar bukan bangsa yang banyak mengkritik, tapi banyak menciptakan. Dari 81 tahun, berapa paten yang kita hasilkan? Berapa startup yang jadi decacorn asli anak bangsa? Berapa film, lagu, buku yang mendunia karena isinya, bukan karena kontroversinya?
Merdeka artinya Dewasa Berdemokrasi.
Boleh ribut saat pemilu. Tapi setelah itu bersatu lagi. Boleh beda partai, tapi jangan sampai beda Indonesia. Kedewasaan itu tanda bangsa yang sudah lama merdeka.
Merdeka artinya Punya Waktu untuk Berpikir.
Dulu pejuang tidak punya waktu mikir karena sibuk perang. Sekarang kita punya waktu. Jangan dihabiskan hanya untuk scroll dan debat. Gunakan untuk belajar, riset, dan menciptakan.
Tugas Siapa? Tugas Kita Semua
Memaknai ulang kemerdekaan bukan tugas pemerintah saja. Ini kontrak sosial baru antara negara dan warga.
Untuk Pemerintah: Fokus pada hilirisasi, pendidikan vokasi, dan perlindungan budaya. Buat kebijakan yang membuat anak muda bangga berkarya di negeri sendiri.
Untuk Pelaku Usaha: Jangan hanya jadi pedagang. Jadilah produsen. Bangun ekosistem, bukan hanya mengejar cuan cepat.
Untuk Generasi Muda: Kamu adalah “generasi 81”. Kakekmu merebut kemerdekaan. Orang tuamu mengisi kemerdekaan. Giliranmu membuktikan kemerdekaan. Jangan mau jadi generasi yang hanya jago ngetik tapi tidak jago kerja.
Untuk Kita Semua: Mulai dari hal kecil. Beli produk lokal. Gunakan bahasa Indonesia yang baik. Saring informasi sebelum share. Ikut menjaga kerukunan.
Jangan Hanya Diperingati, Diwujudkan
81 tahun adalah usia yang matang. Sudah saatnya kita berhenti merayakan kemerdekaan seperti anak kecil yang hanya dapat hadiah.
Saatnya kita merayakannya seperti orang dewasa yang dapat tanggung jawab.
Bung Hatta pernah bilang: “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor di luar, tetapi karena obor di dalam dada”.
Obor itu adalah kemandirian, karya, dan persatuan.
Jadi, mari kita maknai ulang 17 Agustus tahun ini. Bukan dengan bertanya “sudah berapa lama kita merdeka”, tapi dengan bertanya “sudah sejauh apa kita memakmurkan kemerdekaan itu”.
Karena kemerdekaan tanpa kemakmuran, hanya akan jadi peringatan di kalender.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Saatnya naik kelas.
Merdeka!
(Sri DM, Dosen FSD UNM)











