MAKASSAR, 𝗧𝗘𝗥𝗢𝗣𝗢𝗡𝗚𝗔𝗦𝗣𝗜𝗥𝗔𝗦𝗜𝗠𝗔𝗦𝗬𝗔𝗥𝗔𝗞𝗔𝗧.𝗖𝗢𝗠 | Saya sempat nyesek minggu lalu.
Ada acara nikahan keluarga di Makassar. Band lengkap. Gitar, bass, keyboard. Lagunya dari pop 2000-an sampai lagu Korea. Satu ruangan 200 orang ikut goyang dan hafal semua liriknya. Keren.
Pas istirahat, MC nya iseng megang mic: “Warga Sulsel yang terhormat, ada yang bisa lagu daerah tidak? Sinrili kek, Lagu Makassar kek?”
Sunyi.
Yang maju cuma Bapak-bapak 60 tahun kebetulan bawa kecapi. Duduk di pojokan. 2 senar kayu itu dipetik pelan. 3 menit. Selesai. Tidak ada yang rekam. Tidak ada yang tepuk tangan meriah.
Malam itu saya pulang bawa pertanyaan: sejak kapan kita jadi sejago ini soal musik orang, tapi setuli ini soal musik sendiri?
Mungkin ini terdengar keras. Tapi ini PR kita. “Jangan bangga bisa main gitar kalau belum bisa main kecapi.”
Kecapi Itu Bukan “Alat Musik Lama”. Dia Itu WhatsApp-nya Nenek Moyang Kita”
Anak muda sekarang menganggap kecapi = properti acara adat. Dipakai kalau ada gubernur datang. Setelah itu masuk gudang lagi.
Padahal dulu, kecapi itu fungsinya banyak sekali.
Mau melamar? Bawa kecapi. Lewat petikan dan syair Sinrili, kamu kenalan, kamu rayu, kamu janji.
Mau menghibur raja? Kecapi. Mau menceritakan La Galigo? Kecapi.
Mau melepas anak merantau? Ayah duduk, petik kecapi, ibu nyanyi pelan. Isinya doa.
Jadi kecapi itu bukan cuma musik. Dia itu surat, podcast, buku sejarah, dan terapi dalam satu.
Gitar bisa mainkan lagu dari seluruh dunia. Itu hebat.
Tapi kecapi bisa mainkan rasa orang Sulawesi Selatan. Rasa lautnya pelaut Bugis. Rasa gunungnya orang Toraja. Rasa kerasnya orang Makassar.
Mana yang lebih “kita”?
Jujur, Kenapa Kita Jauh dari Kecapi?
Ada 3 alasan yang bikin kita menjauh. Dan ketiganya salah kita sendiri.
Alasan pertama: Kita diajari malu sejak kecil.
Dari SD sampai SMA, pelajaran musik isinya pianika dan recorder. Lomba nyanyi isinya lagu pop.
Kapan terakhir ada lomba “Sinrili Terbaik Tingkat Provinsi”? Jarang.
Lama-lama otak kita merekam: oh, berarti musik kita tidak sepenting musik mereka.
Alasan kedua: Kecapi tidak ada di FYP.
Buka TikTok. Isinya tutorial gitar, tutorial DJ, tutorial main drum.
Coba cari “Tutorial Kecapi 3 Jurus Dasar”. Ada, tapi view nya 200. Bukan karena jelek. Karena tidak ada yang bikin kontennya. Kita kalah cepat.
Alasan ketiga: Ada gengsi.
Ini yang paling nyata. Main gitar = anak gaul. Main kecapi = “kampungan”.
Padahal di Korea, anak muda bangga les Gayageum. Di Jepang, anak muda antri les Shamisen. Keduanya alat musik petik tradisional.
Mereka menjadikan tradisi sebagai gaya. Kita malah menjauhinya karena takut dibilang kuno.
Kalau Kita Diam, 10 Tahun Lagi Siapa Yang Rugi?*
Saya tidak melebih-lebihkan.
Sekarang pengrajin kecapi di Sulsel bisa dihitung jari. Pengrajinnya tua. Pemainnya tua.
Tidak ada regenerasi. Karena tidak ada yang mau belajar.
Bayangkan 2035. Ada turis datang ke Benteng Rotterdam. Tanya: “Kak, musik tradisional Sulsel apa?”
Kita jawab: “Ada Bu… namanya Kecapi… tapi sekarang sudah tidak ada yang main”.
Malu? Pasti.
Yang lebih parah: identitas kita pudar.
Anak cucu kita nanti tahunya Sulsel itu cuma Coto, Konro, dan Pantai Losari.
Mereka tidak akan pernah tahu kalau nenek moyangnya punya cara unik bercerita lewat 2 senar.
Musik itu memori kolektif. Kalau musiknya mati, cara kita mengingat siapa kita juga ikut mati.
Terus Solusinya Apa? Harus Jadi Maestro Dulu?
Tidak. Kita tidak perlu jadi maestro dulu baru mulai.
Cukup 3 langkah kecil ini:
Langkah 1: Kolaborasi. Jangan Kurung di Museum.*
Kecapi harus keluar. Harus ketemu beat.
Sudah ada komunitas anak muda milenial di Gowa yang coba: petikan kecapi + rap. Hasilnya? Anak SMA yang tadinya skip, sekarang share. Harus dikembangkan.
Karena mereka sadar: oh, ini bisa masuk playlist.
Tradisi tidak akan mati karena diubah. Tradisi mati karena tidak disentuh sama sekali.
Langkah 2: Guru dan Kampus Harus Bergerak.
Bu Guru, Pak Dosen. Cukup 1 lagu kecapi per semester. Ajarkan.
Tugasnya bukan bikin anak jago. Tugasnya bikin anak kenal.
Terus upload. Bikin #KecapiChallenge. Saya yakin orang Sulsel paling cepat viral kalau urusan pamer kebanggaan daerah.
Langkah 3: Ubah Mindset: Bangga Dulu, Baru Belajar.
Kita tidak harus nunggu jago baru bangga. Bangga dulu.
Mulai dari hal receh. Acara kampus, minta 1 lagu pembuka pakai kecapi.
Kondangan, tanya: “Boleh sewa pemain kecapi nggak, daripada organ?”
Bikin konten, backsoundnya pakai petikan kecapi.
Dari bangga, lama-lama jadi penasaran. Dari penasaran, lama-lama jadi bisa.
Ini Bukan Soal Alat Musik. Ini Soal Harga Diri.
Saya ulangi. Saya tidak benci gitar. Saya juga suka main gitar.
Tapi saya akan malu kalau 20 tahun dari sekarang, anak saya tanya: “Bu, orang Sulsel punya alat musik apa?”
Lalu saya jawab: “Ada Nak… tapi Ibu tidak bisa mainkan. Ibu lebih jago main gitar”.
Rasanya seperti punya rumah mewah tapi tidak pernah buka kamar peninggalan nenek.
Kecapi itu uratnya musik kita.
Jadi mulai sekarang, mari kita bikin standar baru untuk anak muda Sulsel.
Standarnya bukan: “Kamu bisa berapa lagu Barat?”
Tapi: “Kamu bisa ceritakan 1 bait Sinrili tidak?”
Standarnya bukan: “Followersmu berapa?”
Tapi: “Ada berapa orang yang kamu ajak kenal kecapi karena kontenmu?”
Karena rumah boleh modern, HP boleh paling baru, gaya boleh paling update.
Tapi selama di Sulsel ini masih ada yang mau petik kecapi, masih ada yang mau dengar Sinrili…
Maka kita belum kehilangan diri kita.
Dan percayalah, tidak ada rasa bangga yang lebih besar daripada bisa bilang:
“Saya anak Sulsel. Dan saya bisa mainkan musik tanah kelahiranku.” (Sri DM, Dosen FSD UNM)











